Multajam
Multazam menurut bahasa, artinya pasti. Multazam berada antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang mulia. Tempat inilah yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempat yang palin Mustazab untuk berdo’a dengan sabdanya:
Rasulullah SAW bersabda, “Multazam adalah tempat berdoa yang mustajab (terkabul) , tidak seorang pun hamba Allah yang berdoa di tempt ini tanpa terkabul permintaannya”.
Seorang Musafir Mujahid Berkata, “ apa yang ada di antara pintu Ka’bah dan Rukun Hajar Aswad itu disebut dengan Multazam. Jarang sekali seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari sesuatu, kecuali Allah akan mengabulkannya”.
Rukun Yamani
Rukun Yamani adalah rukun Ka’bah yang menghadap kea rah Yaman yang sejajar dengan Hajar Aswad. Rukun ini berada di atas pondasi-pondasi Baitullah yang di tinggikan Nabi Ibrahim dan Ismail. Oleh sebab itulah, Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah todak pernah menyentuh kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Sudut ini sangat penting artinya bagi keistimewaan Ka’bah, karena setiap orang yang thawaf disunnatkan menyalami atau mengusap dengan tangan kanan jika tidak berdesakan atau disunnatkan melambaikan tangan kanan kea rah sudut ini seraya mengucapkan: Bismillahi Allahu Akbar.
Tempat ini adalah salah satu tempat dikabulkannya do’a. Mujahid berkata: “barang siapa meletakan tangannya dii di Rukun Yamani kemudian dia berdo’a maka Allah akan mengabulkan do’a-nya”. Dalam sunnah Abu Daud disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdo’a saat barada di Rukun Yaman dan di Hajar Aswad dengan membaca:

Dan di antara mereka ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”
(QS. Al-Baqarah – 201)
Maqom Ibrahim
Kata Maqam memiliki beberapa arti, namun yang dimaksudkan disini adalah Maqam yang berarti tempat pijakan orang berdiri. Adapun Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS, untuk berpijak pada waktu beliau membangun Ka’bah.
Salah satu keistimewaan batu Maqam Nabi Ibrahim (dan Hajar Aswad) adalah pemeliharaan Allah agar tidak disembah oleh orang-orang musyrik, sehingga ketika Islam datang, salah satu ajarannya adalah menganjurkan umatnya mencium dan menghormati kedua batu itu sebagai bukti kebesaran Allah yang ada di muka bumi ini, dengan mengambil tempat shalat didekatnya yaitu antara Ka’bah dan Maqam Ibrahim. Shalat di sini umatnya dilakukan setelah melakukan thawaf sebagai shalat sunat thawaf dan setelah itu bacalah do’a dengan kusyu agar Allah mengabulkannya.
Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim
- dijadikan tempat shalat
- ia adalah yaqut dari surga
- tempat dikabulkannya do’a
Imam Hasan Al-Bashri dan yang lainnya dan kalangan ulama mengatakan bahwa di belakang maqam itu mustajab.
Hijir Ismail
Hijr Ismail adalah bangunan terbuka yang berbentuk ½ lingkaran. Disebut Hijr Ismail, karena dalam sejarahnya Nabi Ibrahim pernah membuat satu tempat berteduh yang terbuat dari pohon arok di samping Ka’bah yang ditempati oleh Ismail dan ibunya Siti Hajjar juka ingin shalat di dalam Ka’bah, cukup shalatlah di dalam Hijr Ismail.
Shalat di Hijr Ismail adalah sunnah yang berdiri sendiri dalam arti tidak ada kaitannya dengan thawaf atau umrah, haji dan ibadah lainnya.
Zamzam
Dalam sejarah dikisahkan, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajjar ibunya datang ke Makkah. Nabi Ibrahim hanya meninggalkan kurma dan air untuk keduanya. Kemudian dia kembali ke Palestina. Tatkala bekal itu habis, keduannya merasakan haus yang sangat. Maka, berangkatlah Siti Hajar ke Shafa dan berdiri di sana dengan harapan melihat seseorang di tempat itu.
Demikianlah dia berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa. Pada saat lari yang ke 7 dia mendengar suara orang yang memanggil-mangil, padahal di sekitar tempat itu tidak ada orang kecuali beliau dan Ismail yang masih bayi, lantas ia berseru, “Aku dengar suaramu tolonglah aku kalau engkau orang baik”. Munculah Malaikat Jibril kemudian menghentakkan tumitnya di tanah, lalu memancarlah air di tempat itu dan dengan tergesa-gesa Siti Hajar membendungi air dengan tanah dan pasir agar tidak mengalir ke mana-mana. Maka disebutlah air itu dengan nama Zamzam berarti air yang gemercik tapi terkumpul.
Air Zamzam sengaja dikumpulkan oleh Allah SWT. mula-mula kepada Ismail dan Ibunya Siti Hajar, kemudian oleh mereka berdua diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Ini terbukti setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat air itu, datanglah kepadanya dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus meminta izin untuk memanfaatkan air, dengan senang hati menerima mereka dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air Zamzam dan akhirnya menjadi sebuah kota yang amat ramai.
Diantara faedah air zamzam adalah:
1. Syaba’ah, artinya kenyang, karena setelah minum air Zamzam menjadi kenyang.
2 . Murwiyah, artinya segar, karena air zamzam dapat mengilangkan rasa dahaga dan menjadi segar.
3. Nafi’ah, artinya bernafaat, karena sangat banyak manfaatnya: diantaranya menguatkan hati dan menenagkan rasa takut.
4. Afi’ah, artinya sehat, karena air Zamzam diminum dapat menagkal / menolak penyakit.
5 Maimunah, artinya barokah, karena keberkahan air zamzam sangat dirasakan.
6 Barrah, artinya memiliki kebaikan, karena air zamzam sangat baik bagi orang yang meminumnya untuk memperoleh keberkahan.
7. Madhmunah, artinya bagus, karena indahnya air zamzam maka Allah melarang satu kaum dari bangsa Arab tinggal di sekitarnya karena berbuat maksiat.
8. Kafiyah, artinya mencukupi, karena orang meminum air zamzam merasa cukup / puas.
9. Mu’dzibah, artinya mencegah rasa dahaga karena air zamzam mengandung rasa antara manis dan tawar.
10. Syifa Saqamin, artinya menyembuhkan penyakit, karena air zamzam dapat menjadi obat dan penyakit yang diderita seseorang.
11. Hazamtu Jibril, artinya injakan atau tekanan turun Malaikat Jibril. Disebut demikian karena air zamzam keluar dengan perantaraan tumit kaki Jibril.
12. Maffurah, artinya ampunan, karena orang yang meminumnya diampuni dosanya.
Minum air zamzam sehabis thawaf mengingatkan kapada ni’mat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Yang mengalami kesulitan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang amat besar di bumi Makkah yang sangat tandus, tanpa tumbuh-tumbuhan itu, serta menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pemurah, Maha Kaya dan Maha Mendengar do’a yang berdo’a :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim – 7)
Dan dalam do’a nabi sulaiman AS, seperti dalam ayat Al-qur’an :
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml – 19)
Pelaksanaan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah melestarikan pengalaman Siti Hajar r.a (Ibu Ismail AS) ketika mondar-mandir antara kedua bukit itu untuk mencari air minum bagi dirinya dan puteranya, disaat beliau kehabisan air, ditempat yang sangat tandus, dan tiada seorangpun dapat dimintai pertolongan. Nabi Ibrahim AS tidak berada di tempat, berada di tempat yang sangat jauh di Syam. Kasih sayang seorang ibu yang mendorong Siti Hajar Mondar-mandir hingga 7 kali pulang balik antara bukit Shafa dan Marwah itu. Jarak antara bukit Shafa dan Marwah adalah kurang lebih 400 meter.
Dan diantara hikmah yang perlu dicerna dalam pelaksanaan Sa’i memberikan setiap makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT. Kesungguhan yang dilakukan Siti Hajar dalam mencari air sebagai nyawa kehidupan membuat ia mampu 7 kali mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwah. Hal ini memberi arti bahwa hari-hari kita yang berjumlah 7 hari setiap minggunya haruslah diisi dengan penuh usaha dan kerja keras . pekerjaan yang dilakukan dengan sunguh-sungguh sangat disenangi oleh Allah SWT, sebagai mana yang di sabdakan Rasulullah SAW:
“Bekerja ia melakukan dengan sungguh-sungguh”.
Hikmah Berjalan Cepat (Setengah Lari)
Ramal adalah jalan cepat. Allah mensyariatkannya berjalan cepat secara masal, seperti luapan ombak di tengah lautan luas, maka hal semacam ini menunjukan kekuatan dan kebesaran kaum Muslimin serta keluhuran agama mereka, sekaligus menakut-nakuti orang musyrik dan kafir pada waktu itu. Dan barangkali pada jaman sekarang, kalau berita itu disampaikan kepada umat-umat lain akan meresaplah cahaya iman yang lurus ke dalam hati orang-orang kafir, sehingga mereka akan memeluk Islam dengan senang hati, cinta, hormat dan memuliakannya.
Sumber : KBIH AL-MADINA (Jl. Kebangsaan No.2 Tasikmalaya)